Tim Peneliti Program Bestari Saintek Undiksha Laksanakan FGD Pengembangan Sistem Layanan Pendidikan Anti Kekerasan Berbasis Neurosains dan Budaya Bali di Kota Denpasar

  Publish 31 Juli 2026       Wiardi 

Denpasar – Dalam rangka pelaksanaan Program Hibah Bestari Saintek Tahun 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Tim Peneliti Program Bestari Saintek Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Penelitian bertajuk “Sistem Layanan Pendidikan Anti Kekerasan Berbasis Neurosains dan Budaya Bali di Kota Denpasar”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu (29/07/2026) di Ruang Rapat Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Denpasar.

Kegiatan FGD ini dihadiri oleh Tim Peneliti Program Bestari Saintek Undiksha yang diketuai oleh Prof. Dr. Kadek Suranata, S.Pd., M.Pd., Kons. dan anggota tim. Turut hadir pula dalam FGD ini, yaitu perwakilan perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar yang berkaitan dengan isu pendidikan dan perlindungan anak, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta staf BRIDA Kota Denpasar.

FGD ini sebagai bagian tahapan penting dalam pelaksanaan penelitian yang bertujuan menghimpun masukan, saran, dan perspektif dari berbagai pemangku kepentingan sebagai bahan penyempurnaan pelaksanaan serta pengembangan penelitian. Melalui forum ini, tim peneliti berupaya memastikan bahwa sistem layanan pendidikan yang dikembangkan selaras dengan kebutuhan daerah serta dapat diimplementasikan secara efektif di lingkungan pendidikan.

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. I Nengah Suastika, S.Pd., M.Pd., menyampaikan mengenai pentingnya pengembangan sistem layanan pendidikan yang mampu mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan pendidikan melalui pendekatan neurosains yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya Bali. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan model layanan yang relevan dengan karakteristik sosial dan budaya masyarakat Kota Denpasar.

“Pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pendekatan regulatif semata. Diperlukan sebuah sistem layanan yang mampu membangun kesadaran, karakter, dan perilaku warga sekolah melalui pendekatan ilmiah berbasis neurosains yang dipadukan dengan kearifan lokal Bali. Kami berharap penelitian ini dapat menghasilkan model yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dan mudah diterapkan di sekolah-sekolah, khususnya di Kota Denpasar,” ujar Prof. I Nengah Suastika.

Melalui pelaksanaan FGD ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan serta model layanan pendidikan anti kekerasan yang inovatif, berbasis bukti ilmiah, dan berakar pada nilai-nilai budaya Bali.

Kategori: 

Kata Kunci: 

    Publikasi Terkait: