FGD RIPP Buleleng, Undiksha dan BRIDA Buleleng Petakan Tantangan dan Potensi Pendidikan Wilayah Timur

  Publish 13 Agustus 2026       Wiardi 

Singaraja – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Tingkat Kecamatan dalam rangka Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan (RIPP) Kabupaten Buleleng pada Rabu (12/08/2026) bertempat di Ruang Rapat Kantor Camat Kubutambahan. FGD ini merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan data yang dilaksanakan khusus untuk wilayah timur di Kabupaten Buleleng yang melibatkan pemangku kepentingan pendidikan dari Kecamatan Kubutambahan, Tejakula dan Sawan. Pelaksanaan FGD tersebut diikuti oleh unsur kepala sekolah, guru, komite sekolah serta pengawas SD dan SMP dari Kecamatan Kubutambahan, Tejakula dan Sawan. Selain itu, FGD ini juga dihadiri oleh Tim Pelaksana Penyusunan RIPP Buleleng dan staf dari BRIDA Buleleng.

Kegiatan FGD ini dipimpin Sekretaris Brida Kabupaten Buleleng, drg. I Ketut Wika. Dalam sambutannya disampaikan bahwa penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng merupakan usulan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng yang dalam pelaksanaannya dikerjakan Brida melalui kerja sama dengan Undiksha melalui mekanisme swakelola tipe II. FGD ini merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan data yang dilaksanakan di sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng.

“Untuk wilayah timur, kegiatan melibatkan Kecamatan Kubutambahan, Tejakula dan Sawan. Pelaksanaan FGD diarahkan untuk menggali kondisi eksisting, tantangan, permasalahan, potensi, serta kebutuhan pengembangan pendidikan sebagai bahan penyusunan dokumen perencanaan pendidikan yang berbasis data dan kondisi riil di lapangan”, ungkap Wika.

Selanjutnya, Tim Pelaksana Undiksha memandu jalannya diskusi yang dipimpin oleh I Wayan Budiarta, M.Pd. mewakili Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. I Nengah Suastika, S.Pd., M.Pd. Diskusi difokuskan pada tiga pokok pembahasan, yaitu kondisi eksisting pendidikan, permasalahan dan tantangan yang dihadapi sekolah serta masukan solusi dan arah kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan pendidikan Kabupaten Buleleng.

Dalam pembahasan kondisi eksisting, peserta menyampaikan berbagai dinamika pendidikan di lapangan, mulai dari perkembangan jumlah peserta didik pada jenjang TK, SD dan SMP, ketersediaan tenaga pendidik dan kependidikan hingga kondisi sarana dan prasarana sekolah. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah masih adanya sekolah yang mengalami kekurangan guru. Pada beberapa sekolah, kekurangan tenaga pengajar bahkan mencapai beberapa orang sehingga berdampak pada pengaturan dan pelaksanaan proses pembelajaran.

Selain persoalan tenaga pendidik, para pengawas sekolah turut menyoroti potensi putus sekolah dan rendahnya minat sebagian peserta didik untuk melanjutkan pendidikan. Kondisi tersebut dalam beberapa kasus berkaitan dengan faktor ekonomi keluarga maupun pilihan anak untuk bekerja. Oleh karena itu, diperlukan penguatan koordinasi antara sekolah, orang tua, pemerintah desa serta pemangku kepentingan lainnya untuk mencegah terjadinya putus sekolah dan meningkatkan keberlanjutan pendidikan peserta didik.

Tantangan lainnya berkaitan dengan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan. Beberapa sekolah masih mengalami keterbatasan ruang kelas sehingga harus menerapkan sistem double shift. Sementara itu, sejumlah sekolah lainnya masih membutuhkan ruang guru, laboratorium, perpustakaan, toilet, UKS, serta fasilitas pendukung pembelajaran lainnya.

Kondisi geografis juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pemenuhan dan keberlanjutan sarana pendidikan. Salah satu sekolah yang telah mengalami regrouping dengan sekolah lain menyampaikan bahwa beberapa fasilitas mengalami kerusakan akibat berada di kawasan pesisir. Di sisi lain, sekolah satu atap di wilayah Kubutambahan juga masih menghadapi keterbatasan ruang karena ketersediaan ruangan yang ada belum sepenuhnya mampu mendukung pengembangan fasilitas sekolah secara optimal.

Dalam diskusi tersebut, peserta juga memberikan perhatian terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kecamatan Kubutambahan memiliki sekolah yang melayani peserta didik berkebutuhan khusus di Desa Bengkala dan menjadi salah satu lokasi yang menerima peserta didik dari luar wilayah kecamatan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan tenaga pendidik dan tenaga khusus yang memiliki kompetensi dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, peserta FGD turut mengidentifikasi sejumlah potensi dan keunggulan sekolah yang dapat dikembangkan. Salah satunya adalah sekolah yang berada di kawasan desa wisata dan memiliki peluang untuk membangun kemitraan dengan dunia usaha, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), perguruan tinggi maupun sekolah internasional.

Potensi lokal juga dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Peserta didik telah dilibatkan dalam kegiatan penelitian serta pengenalan kearifan lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat pembelajaran berbasis lingkungan dan budaya. Pengembangan potensi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan karakteristik dan keunggulan wilayah.

Penguatan kemitraan dengan pemerintah desa dan berbagai pemangku kepentingan juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan sekolah. Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.

Selain aspek layanan pendidikan, peserta turut menyampaikan aspirasi terkait kesejahteraan dan pengembangan karier guru serta kepala sekolah. Salah satu isu yang dibahas adalah perlunya perhatian terhadap penghargaan dan dukungan bagi kepala sekolah yang menjalankan tugas tambahan dengan tanggung jawab yang besar. Hal tersebut dinilai perlu menjadi bahan kajian dalam penyusunan kebijakan agar tugas kepemimpinan sekolah dapat didukung secara optimal.

Berbagai persoalan, aspirasi dan potensi yang disampaikan dalam FGD menjadi masukan penting bagi tim penyusun untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi pendidikan di wilayah timur Kabupaten Buleleng. Data mengenai jumlah peserta didik, guru, tenaga kependidikan, kebutuhan tenaga pendidik, sarana dan prasarana, serta berbagai persoalan dan potensi sekolah akan menjadi bagian penting dalam analisis penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng.

Melalui pengumpulan data dan masukan secara langsung dari sekolah, pengawas, komite sekolah serta pemangku kepentingan pendidikan lainnya, penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng diharapkan dapat menghasilkan dokumen perencanaan yang berbasis data, responsif terhadap kebutuhan daerah serta mampu menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan.

Kategori: 

Kata Kunci: 

    Publikasi Terkait: